Sejarah Silsilah Compang Ndehes

 Sejarah Silsilah Suku Compang Ndehes



         

  Desa Compang Ndehes adalah salah satu desa di Kecamatan Wae Rii, yang terletak 12  Kilometer dari Kota Kecamatan. Sampai saat ini sejarah kelahiran Desa Compang Ndehes belum bisa diketahui secara pasti karena tidak adanya bukti-bukti tertulis yang menerangkan tentang asal usul atau sejarah dari Desa Compang Ndehes, akan tetapi berdasarkan cerita dari para tetua, saya  mencoba merangkum Sejarah Desa Compang Ndehes dari informasi dan keterangan-keterangan yang saya  dapatkan.


Desa Compang Ndehes adalah termasuk salah satu desa Induk, hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya banyak keturunan dari desa compang ndhes yaitu  Wau Wajang berada di berbagai wilaya di kabupaten Mangarai salah satu contonya adalah Desa Ndehes. Dikatakan demikian karena sebagain besar masyarakat desa Ndehes adalah keturunan dari wajang ( wau wajang ). 


Tetapi lahirnya nama Desa Compang Ndehes berawal dari cerita bahwa dahulu kala Nenek Moyang Compang Ndehes berasal dari Wajang desa

(Ket. Foto : halamannya Rumah Adat Compang Ndehes ) 

Ranggi kecamatan wae rii. Nama Neneng Moyang yang dimaksud adalah Coel dan istrinya Codo Mondong . 

Selama hidup di Wajang  mereka hanya mempunyai seorang  anak  yang bernama Lompeng (Ema  Lompeng), karena ada perselisian  dalam keluarga terpaksa Ema lompeng meningalkan keluarga di wajang  menuju Golo piang yang letaknya di Desa Wudi kecamatan Cibal. Beliau memilih untuk menetap di golo piang dan selama berada di golo piang Ia menikahi seorang gadis asal Cibal bernama Indang dan memiliki lima keturunan atau lima  bersaudara. Semua Anaknnya   laki-laki, karena situasi pada saat itu tidak aman maka orang tua mereka memerintahkan lima  putra beliau untuk berpencar dan menyebar ke segala penjuru,  yaitu , Ema Pangka, Menuju Ndehes, Ema Paka Menuju Lada, Ema Ronbe menuju Maki Lidang, Ema Sitar menetap di golo piang dan Ema Nombe mrnuju wetok


Salah seorang dari empat  bersaudara tersebut adalah Ema Pangka merupakan anak pertama yang berangkat menuju Ndhes di kecamatan Wae Rii. 


Di bekali senjata sebagai pelindung diri yaitu korung , dengan  dua  ekor babi untuk di pelihara dan di jadikan makanan ketika peliharaanya suda berkembang biak , sampai di  Ndhes beliau menemukan seorang gadis dan di jadikan istrinya yang belum tau keturunanya,  hasil perkawiana mereka lahirlah seorang anak yang bernama Ema Rait, dan Ema Cacang dan Dari berdua saudara salah satunya dari mereka menetap di Timung yaitu Lopo Rait.  


Sedangkan lopo Cancang  menetap Di Ndhes Dan  keturunan Cancang tiga bersaudara yaitu Ema  Dahang, Ema Kongkar, Ema Taang , dari tiga bersaudara masing memiliki keturuana yaitu Ema Dahang lima bersaudara yaitu Ema Pangga, Eman Kokong Ema Paka, Ema Ndarap, dan Ema Rampas sedangkan Ema Taang keturunanya Ema Taka, Ema Sangal, Ema Jogor, ema Haku, Ema Paka   karna keturunan sudah banyak maka di buat suatu perkumpulan adat istiadat dengan berdirinya rumah adat sebagai symbol persatuan dan kesatuan masyarakat  serta di buat tempat upacara bagi masyarakat pada sat itu, yang di bangun di tengah kampung, dan di tandai dengan adanya penanam pohon beringin dan batu caper sebagai tempat upacara yang di namakan compang. Berdasar bentuknya compang tempatnya  di Ndhes maka terbentuklah namanya Compang Ndhes , sehingga sampai sekarang desa bernama Compang Ndhes.


Karena keturunan Cancang pada sat itu memiliki kekuasa tertinggi sehingga danpak terhadap masyarakat   tidak bisa mengawinkan perempuan di keturunan lain atau ambil istri di keturunana lainya, karena kalau hal ini terjadi maka keturunan kita tidak  bertambah berdasarkan itu  maka di  bentukalan Anak Rona Cako yang artinya pernikahan saudara yaitu diberian gadis kepada saudara Anak pertama di keturunan 20 oleh saudara bungsu melalui hubungan cinta yang telah direstui atau disetujui dan di sepakati. dan itu tidak ada unsure paksa dari pihak lain. sehingga keturunan compang ndhes atau Wau  wajang memiliki anak rona dan anak wina. 


Sedangkan Wau kilor waktu itu kedudukanya sebagai Anak Rona, karena keturunan mereka tidak memiliki seorang gadis, Maka tidak terjadi pernikahan


Comments

Popular posts from this blog

Ceak Hutu ( Mencari Kutu): Ada Unsur Dibalik Gosip

Pelayanan liturgi di Paroki Santu Yakobus, Wangkung